Thursday, 29 November 2012

“Saksi Mata“, dalam Perspektif Psikologi Hukum


 -->
Untuk memahami betapa pentingnya masalah “saksi mata” dibahas dalam Psikologi Hukum, terlebih dahulu mengutip pendapat pakar tentang hal tersebut :
“ Meskipun kesaksian seperti ini sering ditantang, ini masih sering secara luas dianggap sebagai lebih dapat diandalkan (dipercaya) ketimbang jenis-jenis bukti lain. Meskipun demikian, banyak eksperimen menunjukkan bahwa ini secara mencolok menjadi sasaran kesalahan. “ (Buckhout 1974 : 23)
Kutipan diatas, paling tidaknya telah mencerminkan keprihatinan bertahun-tahun terhadap keterbatasan-keterbatasan pembahasan tentang kesaksian dari saksi mata, penerimaan yang lebih belakangan terhadap fakta bahwa seluruh proses mengamati dan mengingat wajah-wajah dan peristiwa-peristiwa merupakan proses yang kompleks, interaktif, dan dinamis, dan akhirnya, bahwa kita tidak semestinya meremehkan fakta bahwa kesaksian seperti itu dapat akurat.
Kesaksian saksi-mata, mempunyai arti sangat penting baik bagi para penginvestigasi maupun para lawyer. Dengan demikian, di dalam bidang psiko-legal, tidaklah mengejutkan bahwa kesaksian, khususnya kesaksian saksi-mata, telah menarik banyak perhatian selama bertahun-tahun. Isu-isu tentang memori (ingatan) memungkinkan kajian-kajian tentang hukum dan kajian-kajian psiko-legal tentang kesaksian saksi-mata menjadi salah satu dari pilar-pilar psikologi hukum. Lebih banyak kajian empiris telah dilaporkan dalam bidang psikologi ini ketimbang di bidang lain. Lebih jauh, asumsi-asumsi tentang memori manusia bersifat inheren baik di dalam aturan-aturan substansial maupun di dalam aturan-aturan procedural yang tanpa itu sistem hukum tidak dapat berfungsi. (Johnson 1993-603).
Prosedur persidangan yang diikuti di pengadilan-pengadilan AS, Australia, Inggris, Kanada, dan Selandia Baru dan di Negara-negara lain yang menggunakan sistem common law dikenal sebagai “adversary system”. Ini pada dasarnya berarti bahwa, pihak-pihak yang berbeda pada suatu sengketa berjuang di pengadilan dengan tujuan untuk mendapatkan keputusan yang menguntungkan.
Sebagaimana ditunjukkan oleh literatur mendalam, benar-benar terdapat persoalan pengidentifikasian saksi-mata. Sayangnya, beberapa penulis mengambil pandangan yang agak sempit dan menulis tentang persoalan ini, seakan-akan ini bersinonim dengan kesalahan saksi dalam mengidentifikasi seorang tersangka dalam suatu rangkaian/deretan pengidentifikasian, suatu tugas yang tidak menghadang mayoritas besar para saksi dalam investigasi-investigasi dan penuntutan-penuntutan pidana.
Di kedua sisi Atlantik para psikolog eksperimental telah dan masih muncul di pengadilan jauh lebih sering sabagai saksi ahli untuk memberitahu pengadilan dan juri tentang psikologi kesaksian pada umumnya dan kesaksian saksi-mata khususnya. Ini merupakan suatu perkembangan yang menarik dengan mempertimbangkan sangat banyaknya kasus, baik pidana maupun perdata, yang di dalamnya kesaksian saksi memainkan suatu bagian penting.
Tentu saja, seorang saksi dapat memberikan kesaksian secara tidak jujur atau secara jujur tetapi secara tidak benar, atau mungkin menghilang, menarik diri atau meninggal dunia sebelum kasus bersangkutan sampai waktunya disidangkan. Saksi yang jujur, kooperatif, itulah yang menjadi salah satu perhatian. Sebagaimana dikemukakan oleh Lord Devlin (1976) : “ Saksi yang sangat terhormat, sepenuhnya koheren, dan jelas-jelas meyakinkan dapat salah, sebagaimana telah cukup sering ditunjukkan oleh pengalaman. Di kebanyakan jurisdiksi, tidak kurang kasus pengidentifikasian yang salah, termasuk beberapa pengidentifikasian, tidak menguntungkan di mana terdakwa dieksekusi. Yang lebih lazim adalah kasus-kasus dimana orang ditangkap dan diadili oleh Negara (bagian) atas dasar bukti identifikasi yang berikutnya tidak dipercaya. (Buckhout 1974 : 23).
Saksi-saksi dalam kehidupan sehari-hari di dalam kasus-kasus pidana dan perdata di seluruh dunia diminta oleh polisi, lawyer, dan lain-lain di dalam dan di luar pengadilan untuk mengingat detail-detail peristiwa, untuk menggambarkan wajah berdasarkan asumsi bahwa manusia bekerja seperti sebuah video-recorder. Model pasif yang menyesatkan tentang perhatian, persepsi, dan memori manusia ini telah, pada sekitar dua dasawarsa terakhir, memberikan jalan kepada pandangan bahwa perhatian, persepsi, dan memori manusia merupakan proses-proses aktif, bahwa persepsi dan memori juga merupakan proses-proses konstruktif, bahwa pengetahuan seseorang tentang dunia di sekitar mereka, mempunyai arti penting dalam memahami apa dan bagaimana ia mempersepsi peristiwa-peristiwa atau perangsang-perangsang (stimulus) lain dan apa yang mereka ingat tentangnya.


No comments:

Post a Comment

Orang baik meninggalkan pesan