Friday, 27 December 2013








“Menjelang era tahun 2000an industri tambang mineral dalam negeri digegerkan oleh sebuah tragedi kerusakan lingkungan hidup terparah yang pernah terjadi di Indonesia. Kerusakan lingkungan hidup di Teluk Buyat mengakibatkan rusaknya ekosistem laut yang ada disana dan menyebabkan hampir seluruh mata pencaharian setempat yang berhubungan dengan laut serta kesehatan warga setempat menjadi terganggu.”

Diakui atau tidak, dunia pertambangan di Indonesia terus dibayangi stigma buruk. Tambang bagaimanapun adalah kegiatan perusakan lingkungan massal karena merusak hutan, mengganggu keseimbangan lingkungan serta dapat menghasilkan limbah berbahaya terhadap sekitarnya. Meski tidak seluruhnya, setidaknya seperti inilah beberapa anggapan umum masyarakat mengenai tambang. Anggapan mengenai tambang ini seolah diperkuat oleh terungkapnya kasus kerusakan lingkungan sebagaimana telah saya sebutkan dimuka. Teluk buyat yang merupakan salah satu daerah di Sulawesi Utara ini menghadapi persoalan pelik mengenai kemerosotan kualitas lingkungan hidup karena kegiatan pertambangan.

Sedikit berbagi informasi, pencemaran laut di Teluk Buyat sendiri terungkap setelah munculnya keluhan penyakit yang diduga Penyakit Minamata yang diderita sejumlah warga di Desa Buyat, Minahasa, Sulawesi Utara. Kelompok-kelompok sipil setempat menuduh bahwa perusahaan tambang terkait telah membuang 5,5 juta ton merkuri dan arsenic sarat limbah ke teluk selama 8 tahun masa operasinya yang menyebabkan terjadinya kerusakan lingkungan dan berbagai gangguan kesehatan yang dialami warga setempat.

Tidak hanya kasus pencemaran di Teluk Buyat, berbagai kasus sejenis juga terjadi di belahan indonesia lainnya. Sebut saja, kasus pencemaran tambang di Pulau Bangka dan pencemaran tambang batu bara di Kalimantan. Dalam kasus tersebut, hasil tambang yang telah diperoleh tidak berbanding lurus terhadap kegiatan normalisasi lingkungan yang ada dan pertanggungjawaban bagi warga setempat, alhasil citra dunia tambang di mata masyarakat tetap saja buruk meski sebenarnya tidak semua perusahaan tambang demikian. Merosotnya kualitas lingkungan hidup yang berimplikasi terhadap citra dunia pertambangan seyogyanya menjadi pekerjaan rumah perusahaan tambang dan pemerintah untuk memperkuat pengawasan dan regulasi yang ada dalam mengelola kawasan tambang sesuai dengan kaidah pengelolaan tambang berwawasan lingkungan.

Pengelolaan Tambang Berwawasan Lingkungan

Sebenarnya, pengelolaan tambang di Indonesia mengacu pada Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara, dimana dalam undang-undang tersebut setiap perusahaan wajib melakukan normalisasi atau dalam undang-undang ini disebut reklamasi yang berarti kegiatan usaha pertambangan untuk menata, memulihkan dan memperbaiki kualitas lingkungan dan ekosistem agar dapat berfungsi kembali sesuai peruntukannya.

Tidak hanya dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009, dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas telah diatur bahwa tanggung jawab sosial dan lingkungan dewasa ini menjadi bagian yang wajib dilaksanakan oleh perusahaan. Pasal 74 ayat (1) menyatakan perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan. Hal ini lebih dipertegas lagi dalam ayat (3) yaitu, Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dari semua kenyataan mengenai citra buruk dan keraguan mengenai perilaku perusahaan tambang, langkah bijak yang dapat ditempuh tentu tidaklah dengan melarang seluruh kegiatan pertambangan, karena bagaimanapun tambang merupakan salah satu penggerak ekonomi nasional yang menentukan terhadap kemajuan suatu negara. Langkah bijak yang perlu ditempuh yakni menerapkan eksplorasi tambang berwawasan lingkungan yaitu dengan mengutamakan keseimbangan eksplorasi dan pemulihan lingkungan yang dieksplorasi

Mengenal PT Newmont Nusa Tenggara

Belum banyak yang mengetahui bahwa dari sekian perusahaan tambang dengan kinerja dan kesan buruknya, masih ada perusahaan tambang di Indonesia yang memiliki kinerja dan perencanaan yang baik terhadap pengelolaan tambang yang berwawasan lingkungan, salah satunya yaitu PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT).

PT NNT sendiri merupakan perusahaan patungan Indonesia yang sahamnya dimiliki oleh Nusa Tenggara Partnership (Newmont & Sumitomo), PT Pukuafu Indah (Indonesia) dan PT Multi Daerah Bersaing. PT NNT menandatangani Kontrak Karya pada 1986 dengan Pemerintah RI untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi di dalam wilayah Kontrak Karya di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). PT NNT menemukan cebakan tembaga porfiri pada 1990, yang kemudian diberi nama Batu Hijau.



Perusahaan Tambang yang beroperasi secara penuh sejak bulan maret tahun 2000 lalu ini bisa dibilang memiliki pengelolaan yang begitu matang terhadap hasil limbahnya,

No comments:

Post a Comment

Orang baik meninggalkan pesan